Halaman


.::Mari Menjadikan Di Setiap Hembusan Nafas Kita Hanya Untuk Menggapai Ridho ALLAH Subhanahu wa ta'ala, InsyaALLAH::.

Kamis, 15 Januari 2009

Ciri-ciri Pribadi Muslim Sejati

Kita tahu bahwa Islam itu bertolak daripada iman. Namun iman saja tidak mencukupi. Ia perlu juga ilmu dan amal.

Islam itu ialah iman, ilmu dan amal. Tanpa ketiga-tiga elemen ini, maka Islam tidak akan terlaksana pada pribadi seorang Muslim.

Untuk mencapai tujuanini, roh dan akal mesti berperanan. Disamping itu seseorang muslim perlu mendapat pimpinan. Ketiga-tiga pengaruh ini wajib ada. Kalau tidak pribadi Muslim itu akan jadi cacat dan tidak sempurna.

Peranan Roh
Roh berperanan dalam soal iman. Roh melibatkan soal kepercayaan dan keyakinan. Tentang akidah dan pegangan. Tentang keimanan kepada Tuhan dan hari Akhirat. Tentang rasa cinta dan takut dengan Tuhan.

Namun kalau peranan roh saja yang wujud tanpa ada peranan akal dan kepimpinan, maka seseorang itu akan menjadi fanatik. Dia akan menjadi taksub secara membuta. Perasaannya tidak seimbang dan sukar untuk dikawal. Dia ingin bertindak, beramal dan membuat sesuatu tetapi tidak tahu bagaimana dan apa caranya. Pertimbangannya juga tidak seimbang dan berat sebelah. Dia akan menjadi orang yang berjiwa tetapi kaku. Dia mau bergerak tetapi tidak tahu bagaimana hendak menyusun langkah.

Peranan Akal
Akal berperanan dalam soal ilmu. Ia berkait dengan penyampaian dan penerimaan ilmu. Tentang ta’alim atau pengajian. Tentang pembelajaran. Peranan akal membuat seseorang itu menjadi alim dan bepengetahuan. Namun kalau peranan akal saja yang wujud dan peranan roh dan kepimpinan tidak ada, maka seseorang itu akan menjadi ahli ilmu yang tidak cinta dan tidak takut dengan Tuhan. Yang tidak ada cita-cita akhirat.

Ilmunya akan digunakan untuk dunia semata-mata. Ilmunya akan dijual dan dikomersialkan. Ilmunya akan ditukar menjadi duit dan harta kekayaan. Ilmunya hanya untuk bermujadalah (berdebat), berforum dan berseminar. Untuk mendapat pujian, uang , pangkat, jawatan dan nama. Ilmunya tidak memberi hasil pada pribadinya.

Dia tidak dapat beramal dengan ilmunya, jauh sekali untuk memperjuangkannya. Dia akan menjadi orang alim yang tidak beramal dengan ilmunya. Dia akan menjadi jumud dan beku. Walaupun dia tahu bagaimana hendak menyusun langkah, tetapi dia tidak mempunyai kemauan dan kekuatan dalaman untuk bergerak.

Peranan Kepimpinan
Kepimpinan melibatkan didikan, panduan, contoh dan suri teladan. Tentang bagaimana ilmu itu dapat dan patut diamalkan. Tentang siapa yang patut dicontohi dalam mengamalkan ilmu. Tanpa ada pimpinan dari seorang pemimpin sebagai contoh atau model, sukar ilmu dapat difahami lebih-lebih lagi untuk diamalkan dan dihayati.

Tanpa pimpinan, ilmu akan hanya tinggal ilmu. Itu sebabnya di dalam agama, dikirim Rasul yang diberi atau yang membawa kitab. Bukan kitab saja yang dihantar tanpa Rasul. Kalau kitab saja yang dihantar, maka tidak akan ada contoh atau role-model untuk diikuti. Tanpa contoh dan role-model, mustahil ilmu dapat difahami dan diamalkan.

Dalam hendak mengamalkan ilmu dan dalam hendak menjadi seorang muslim yang sempurna, contoh fisik atau kepimpinan sangat perlu. Semua bentuk peranan ini mesti ada. Tidak ada satu yang boleh ditolak. Barulah ia boleh lengkap melengkapkan. Peranan roh dan akal mesti bergabung dan contoh atau pimpinan mesti dicari.

Inilah ramuan-ramuan yang perlu untuk menjadi seorang Muslim yang sempurna. Kalau ramuan ini tidak cukup, usaha untuk menjadi seorang Muslim yang sempurna akan menjadi sia-sia. Lebih-lebih lagilah untuk menjadi seorang yang Mukmin yang bertaqwa. Sebab orang Mukmin yang bertaqwa itu, mesti sempurna Islamnya terlebih dahulu.

Senin, 13 Oktober 2008

MENGGAPAI KEBENINGAN HATI

Bila hati bisa kita jernihkan dari tumpukan emosi yang tidak perlu, dia akan kembali sebening kaca dan mampu kedamaian, kemudahan, dan keindahan hidup.

Emosi adalah kunci untuk menemukah diri yang sejati. Ironisnya, kebanyakan masalah yang kita temui dalam hidup disebabkan oleh emosi. Contohnya, pernahkah Anda merasa uring-uringan (atau ‘bete’, kata anak zaman sekarang) yang berkepanjangan? Seringkah Anda merasa tak nyaman karena perasaan Anda campur-aduk tak karuan?

Itu suatu pertanda Anda sulit mengenali, menyadari, dan mengelola setiap perasaan yang tengah An¬da alami. Bagaimana cara Anda menghilangkan perasaan negatif: berusaha memendamnya rapat-rapat, melupakannya, atau melampiaskannya kepada orang lain? Meski emosi telah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari setiap manusia, tak semua orang bisa menerima, mengakrabi, apalagi mengelola emosi mereka sendiri. Padahal, mengutip pendapat Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence, salah satu tanda kecerdasan emosional adalah mampu memonitor apa yang kita rasakan dari momen ke momen un¬tuk memperoleh wawasan psikologis dan pemahaman terhadap diri sendiri.

PETA EMOSI
Perasaan atau emosi (dari bahasa Inggris “emo¬tion”), sebenarnya merupakan energy in motion atau energi yang bergerak. Sifat energi adalah dinamis dan kekal; ia tak dapat dimusnahkan, melainkan hanya dapat diubah menjadi bentuk energi yang lain. Perasaan manusia timbul kala energi di dalam dan di sekitar dirinya bergerak. Energi inilah yang menjadi ‘nyawa’ laku kita, mewarnai pikiran, membentuk mimpi, memperkaya hubungan insani, dan menyedi-akan bahan baku bagi daya cipta manusia. Energi ini sebenarnya adalah bagian dari diri kita, yang biasanya tak kita sadari keberadaannya sampai ia muncul men¬jadi sesuatu yang kita kenal sebagai ‘emosi’.

MEMPERMUDAH HIDUP

Brian Tracy berkata, bila kita menjadikan kedamaian sebagai tujuan tertinggi serta membuat semua kegiatan, keputusan, dan perilaku berdasarkan tujuan ini, maka kita akan lebih bahagia dan efektif dalam kehidupan dan karier. Dengan menerapkan teknologi ikhlas secara teratur, Anda akan menemukan kedamaian serta kehidupan yang lebih mudah dan menyenangkan secara alamiah.

Rasa damai sebetulnya selalu ada di hati manusia, meski seringkali ia tersamar oleh emosi-emosi lain. Kedamaian merupakan hal yang operasional dan bisa dilatih. Setiap kali kita memusatkan perhatian pada kedamaian hati, secara alamiah ia akan tumbuh, berkembang, serta melepaskan kebuntuan yang kita alami.

Menurut Paul R Scheele, bila kita dapat melepaskan konflik-konflik dalam pikiran, emosi, dan perilaku, kita akan dapat mencapai performa terbaik kita seba¬gai manusia. Anda pun akan menemukan kembali apa yang paling didambakan hati.

PENYEMBUHAN DENGAN DO'A

Berdoa yang efektif ternyata ada aturannya. Teknologi modern sangat membantu
membuat doa-doa kita secara ajaib lebih mudah dan lebih cepat terjawab.

Larry Dossey, M.D seorangdokter dari Texas, Amerika, dalam bukunya Healing words: The Power of Prayer and The Practice of Medicine dan Prayer is Good Medicine mengatakan bahwa sudah banyak penelitian bersifat ilmiah yang dilakukan para ahli untuk mengetahui pengaruh doa dalam penyembuhan. Sebagian besar dari penelitian tersebut memperlihatkan bahwa doa memang memiliki efek penyembuhan. Tak heran jika kini doa menjadi bagian yang penting dalam pengobatan modern.

Masih menurut Dossey, seorang peneliti senior dari National Institute for Healthcare Research di Rockville, Maryland, bernama David B. Larson M.D., juga pernah meneliti hubungan antara sikap spiritual dan kesehatan. Menurut Larson, berdoa secara teratur membantu mencegah datangnya penyakit yang bersifat fisik dan mental. Juga membantu kita menghadapi penyakit secara efektif.

Masalahnya sekarang, doa yang bagaimana yang bisa membantu menyembuhkan atau mencegah datangnya penyakit? Karena diakui atau tidak, doa yang terus kita panjatkan ternyata tidak semuanya langsung dikabulkan. Atau kalau pun segera terkabul, ternyata tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Jadi jelasnya, bagaimana cara berdoa yang baik dan benar?

Terjawab tak selalu berarti langsung dikabulkan

Menurut Erbe Sentanu atau biasa dipanggil Nunu dari Katahati Institute, sebuah lembaga yang mengajarkan teknik berdoa yang efektif, ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti agar suatu doa bisa lebih cepat terjawab. Terjawab di sini maksudnya bisa bermacam-macam. Bisa saja seseorang dibelokkan dari apa yang dimintanya atau justru dihentikan sama sekali dari apa yang diinginkan. Terkadang seolah ‘disuruh’ menyempurnakan isi doanya dulu baru dikabulkan. Atau bisa juga secara instan langsung dikabulkan persis sesuai dengan yang diinginkan dalam waktu yang sangat singkat. Yang terakhir ini sering sekali terjadi pada mereka yang sudah mempelajari aturan berdoa yang efektif.

Mengenai ukuran dari efektif tidaknya suatu doa, Nunu menjelaskan bahwa hal itu langsung bisa dilihatdari perubahan yang terjadi dalam kondisi kesehatan atau kehidupan seseorang. Bandingkan saja kondisi kesehatan dan kehidupan orang tersebut ketika berdoa dengan cara yang lama dan setelah menggunakan cara yang efektif.

Tapi dengan semakin efektifnya doa seseorang, Nunu juga mengingatkan untuk semakin mewaspadai apa yang ada dalam pikiran dan dalam hati karena semuanya akan menjadi lebih mudah mewujud. Berdasarkan pengalaman dari mereka yang pernah belajar, antara apa yang diminta dalam doa dan realitanya semakin lama menjadi semakin dekat. Apa yang kemarin diminta bisa saja hari ini sudah didapat. Apa yang baru kemarin dipertanyakan, hari ini sudah terjawab. Sehingga pada akhirnya, mereka menjadi semakin yakin bahwa manusia memang diciptakan sebagai mahlukyang paling sempurna.

Mengenai teknik yang diajarkan Nunu, sebenarnya bukan sesuatu yang sangat asing bagi kita. Pada dasarnya, syarat dari doa yang efektif itu di antaranya adalah bahwa doa tersebut harus diucapkan dengan khusyuk, isi doanya jelas dan apa yang terucap secara lisan harus sesuai dengan apa yang dibayangkan dan apa yang dirasakan di dalam hati. Kedengarannya memang mudah, tetapi yang menarik disini adalah cara mempratikannya yang tidak biasa, sehingga hasilnya pun sering kali di luar dugaan.

Karena itu menurut Nunu, bila suatu saat kita merasa hidup tidak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, mungkin perlu dicek kembali, apa saja doa yang telah lama mengendap di batin.

Mencapai khusyuk bisa dilatih

Khusyuk adalah kondisi yang rileks, fokus, dan penuh konsentrasi. Doa yang efektif adalah doa yang dipanjatkan dengan sikap khusyuk supaya bisa masuk ke batin bawah sadar. Doa tersebut juga harus berupa niat yang sangat kuat sehingga betul-betul menempel di batin bawah sadar. Mencapai kondisi khusyuk ini perlu dikuasai sebagai suatu keterampilan yang bisa didapat melalui latihan. Menurut Nunu, yang perlu dilatih dalam hal ini adalah otak, yaitu mengaktifkan meditative brain atau otak yang selalu berzikir (dalam keadaan meditatif).

Dalam meditasi, teknologi DigitalPrayer bisa membantu mempercepat memasuki keadaan meditatif.

Bagi orang yang terbiasa bermeditasi atau tenggelam dalam dzikir, mencapai kondisi khusyuk sangatlah mudah. Namun bagi yang masih sulit mencapai khusyuk, kini bisa menggunakan alat bantu yang disebut teknologi DigitalPrayer. Alat ini berupa CD brainwave management (pengaturan gelombang otak) berisi suara-suara alam seperti air mengalir, gelombang samudra yang naik turun, atau kicau- burung yang telah diracik menggunakan teknologi audio yang khusus didesain untuk menghasilkan kondisi-kondisi otak dan kesadaran tertentu. Mendengarkan CD ini secara teratur bisa melatih otak untuk bekerja sama antara satu sisi dengan sisi lainnya, sehingga bisa memasuki kondisi khusyuk secara cepat dan memiliki kemampuan konsentrasi yang lebih baik.

Tentunya latihan ini juga memunculkan kemampuan untuk melakukan relaksasi secara alami. Karena dalam kon¬disi yang sinkron dan seirama, otak akan mengeluarkan hormon endorphine lebih besar sehingga timbul rasa nyaman dan nikmat (hormon endorphine di dalam tubuh memang bekerja seperti morfin).


Isi doa harus jelas dan spesifik

Pada dasarnya doa adalah rangkaian pikiran yang kita kemas dan kita kirimkan, kata Nunu. Jika seseorang telah berhasil memasuki kondisi khusyuk yang dalam, maka segala yang terucap atau bahkan terpikirkan akan cenderung mudah mewujud. Doa menjadi nafasnya setiap saat dan setiap helaan nafas adalah doanya.

Padahal semua pengalaman, kejadian, keadaan, dan pekerjaan yang kita kerjakan selama ini, adalah kreasi dari alam bawah sadar terhadap pikiran. Segala sesuatu yang kita pikirkan, kita rencanakan, kita renungkan, pada akhirnya akan direspon oleh bawah sadar. Kalau itu kita lakukan terus menerus, maka batin bawah sadar akan bekerja dan membuahkan hasil. Maka hidup pun menjadi perwujudan doa. Hal itu berlaku pada pikiran yang baik maupun yang buruk. Karena batin bawah sadar bekerja seperti robot yang tidak mampu membedakan baik dan buruk.

Karena itu menurut Nunu, bila suatu saat kita merasa hidup tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan, mungkin perlu dicek kembali, apa saja doa yang telah lama mengendap di batin bawah sadar kita. Bisa jadi ada program yang tidak mendukung yang tanpa sengaja masuk ke batin bawah sadar kita dan dari dalam ‘menjegal’ rencana-rencana hidup yang telah kita susun dengan baik. Dan akhirnya menjadi penyebab dari kegagalan, kekecewaan, dan ketidakbahagiaan hidup kita.

Sebagai contoh yang mudah adalah, bila penghasilan kita besar tetapi cepat sekali habis, uang tabungan pun tak pernah terkumpul banyak. Barangkali di batin bawah sadar kita secara tak sengaja pernah masuk program ’sulit menabung’ atau ‘membenci orang kaya’.

Oleh karena itu, pernyataan-pernyataan yang kita buat sebaiknya disusun dengan benar. Aturannya yaitu harus berbentuk kalimatyang positif, berlaku sekarang, bersifat pribadi, persisten (sering diulang) dan dengan hasrat yang menyala. Dengan begitu, batin bawah sadar akan merespon dengan mudah sesuai dengan yang kita inginkan. Itu sebabnya orang bijak sering mengatakan bahwa alam semesta hanya akan membukakan jalan bagi orang yang tahu tujuan hidupnya.

Yang terucap dan yang terasa di hati harus sinkron

Apa yang ada di hati dan yang diucapkan ketika berdoa harus sejalan. Karena doa bukan hanya aktivitas mulut. Jadi misalkan Anda sudah berdoa dengan cara yang benar, tetapi tidak ada efeknya dalam kehidupan, barangkali inilah yang perlu diperhatikan. Jika Anda berdoa memohon sesuatu dengan penuh rasa takut disertai bayangan buruk dan kekhawatiran doa itu tidak akan dikabulkan, biasanya itu jugalah yang akan terjadi. Karena itu, bila menginginkan kesembuhan, sambil berdoa sebaiknya Anda membayangkan segala sesuatu yang bisa Anda lakukan di kala sehat. Dalam hati juga harus terpateri keyakinan bahwa Anda memang pantas dan bisa menjadi sehat kembali. Kalau yang dirasakan dalam hati justru bahwa penyakit Anda sudah sedemikian beratnya sehingga kecil kemungkinannya untuk sembuh atau bahkan tak mungkin sembuh, sama saja dengan mendoakan bahwa kemungkinan sembuh Anda kecil.

Rasa syukur adalah doa terbaik

Langkah yang satu ini barangkali tidak mudah dijalankan, tetapi sangat penting yaitu membentuk sikap yang selalu bersyukur. jika dalam doa kita selalu mengucapkan syukur, sama artinya kita menanamkan keyakinan pada batin bawah sadar bahwa semua keinginan kita telah terpenuhi.

Kita harus ingat bahwa batin bawah sadar kita tidak mampu membedakan antara imajinasi dan realita. Sekali bawah sadar menerima suatu gagasan, maka dia akan mulai bekerja untuk membuat segala yang kita pikirkan atau bayangkan menjadi suatu kenyataan. Batin bawah sadar bekerja selama 24 jam terus menerus. Ketika kita tidur pun batin tidak tertidur, tetapi bekerja mewujudkan segala hal yang kita rancang dan kita pikirkan. Dan hasilnya terkadang begitu tak kita duga sehingga seringkali kita namakan keajaiban. (N)

Minggu, 28 September 2008

Temuan Ilmiah Modern: Syukur Menambah Nikmat !

Ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih. Bersyukur, selain menyehatkan jiwa-raga, juga mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Sikap berterima kasih atau bersyukur mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Inilah kesimpulan S.B. Alqoe dkk. asal University of Virginia, Amerika Serikat (AS). Hasil penelitiannya dimuat di jurnal ilmiah Emotion, edisi Juni 2008 dengan judul “Beyond reciprocity: gratitude and relationships in everyday life” (Lebih dari sekedar hubungan timbal balik: sikap bersyukur dan persahabatan dalam hidup keseharian).

Dalam karya ilmiah itu para ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih yang muncul secara alamiah dalam perkumpulan mahasiswa di perguruan tinggi selama acara “pekan pemberian hadiah” dari anggota lama kepada anggota baru. Para anggota baru mencatat tanggapan atas manfaat yang mereka dapatkan selama pekan tersebut.

Di akhir pekan itu, dan satu bulan kemudian, anggota lama dan anggota baru menilai keadaan persahabatan dan hubungan di antara mereka. Kesimpulannya, rasa terima kasih atas pemberian hadiah berpeluang memicu terbentuknya dan terpeliharanya persahabatan di antara mereka.

Aneka manfaat syukur
Selain jalinan persahabatan yang baik, sikap bersyukur kini terbukti secara ilmiah memicu pula aneka manfaat lain. Di antaranya manfaat kesehatan jasmani, ruhani dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Tidak heran jika “gratitude research” atau “penelitian tentang sikap bersyukur” menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.

Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.

Dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka berterima kasih juga merasa bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.

Tak tersentuh sebelumnya
Dulu, sikap bersyukur atau berterima kasih sama sekali tidak terjamah dalam kajian ilmuwan psikologi tatkala profesor Emmons mulai mengkajinya di tahun 1998. Penelitian pertama prof Emmons melibatkan para mahasiswa kuliah psikologi kesehatan di universitasnya.

Saat itu sang profesor mewajibkan sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.

Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukurnya mengalami perbaikan kualitas hidupnya.

Dampak latihan bersyukur
Melalui latihan, perasaan bersyukur dapat dibiasakan dalam diri seseorang. Pelatihan sengaja untuk menanamkan rasa syukur ini ternyata membawa dampak positif dalam beragam sisi kehidupan.

Dalam penelitian menggunakan metoda membandingkan, ditemukan bahwa mereka yang menuliskan rasa syukurnya setiap pekan mendapatkan manfaat jasmani-ruhani yang lebih baik dibandingkan mereka yang terbiasa mencatat peristiwa menjengkelkan dan kejadian yang biasa-biasa saja. Di antara manfaat ini adalah olah raga yang lebih teratur, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit badan, merasa hidupnya secara keseluruhan lebih baik, dan berpengharapan lebih baik di minggu mendatang.

Manfaat lain sikap berterima kasih tampak pada keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita. Dibandingkan dengan orang-orang yang bersikap sebaliknya, mereka yang senantiasa memiliki daftar ungkapan rasa syukur lebih cenderung mengalami kemajuan dalam pencapaian cita-cita mereka. Cita-cita ini dapat berupa prestasi akademis, hubungan antar-sesama dan kondisi kesehatan.

Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu atau pada orang yang menganggap dirinya lebih sejahtera dibanding orang lain.

Selain itu, mereka yang memiliki rasa syukur setiap hari lebih memiliki jiwa sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang suka berkeluh kesah dan suka menganggap orang lain kurang beruntung. Golongan yang pertama tersebut cenderung menolong seseorang yang memiliki masalah pribadi, atau telah membantu dukungan semangat kepada orang lain.

Pasien pun tak luput dari penelitian seputar sikap bersyukur ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.

Ketika syukur menjadi kebiasaan
Insan yang bersyukur menyatakan diri mereka merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan pengharapan baik di masa depan. Mereka juga mengalami kemurungan dan tekanan batin dengan kadar rendah.

Kalangan yang memiliki kebiasaan kuat dalam bersyukur atau berterima kasih memiliki kemampuan menyelami jiwa orang lain dan mengambil sudut pandang orang lain. Mereka ditengarai lebih dermawan dan lebih ringan tangan oleh orang-orang di jalinan persahabatan mereka.

Terdapat pula kaitan antara kerohanian seseorang dengan sikap bersyukur. Kecenderungan bersyukur lebih banyak dilakukan mereka yang secara teratur menghadiri acara keagamaan dan terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti berdoa atau sembahyang dengan membaca bacaan relijius berkali-kali. Kaum yang bersyukur lebih cenderung mengakui keyakinan akan keterkaitan seluruh kehidupan, serta rasa ikatan dan tanggung jawab terhadap orang lain.

Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting pada hal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.

Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung bukan berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.

Nikmat bertambah
Profesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier” (Terima kasih! Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia) yang terbit tahun lalu. Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.

Temuan ilmiah tentang syukur ini mengukuhkan risalah ilahiah bahwa syukur adalah akhlak mulia yang mesti ada dalam diri manusia. Sebab, syukur memicu bertambah nikmat hidup seseorang:

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Al Quran, Ibrahim, 14:7). [emotion/cr/hidayatullah.com]

Minggu, 24 Agustus 2008

bANGKiT DeNGAN SABAR danTAWAKKAL << motivasi islam

Suatu saat anda ditimpa goncangan hidup berupa musibah,cobaan,atau kegagalan atas apa yang ingin kita capai padahal kita merasa sudah berikhtiar…kemudian kita larut dalam rasa susah,tak berguna,terpuruk,terbuang,dan seabreg keruwetan lainnya. Hati - hatilah, kondisi ini mungkin mendorong anda berbuat ceroboh, dan menimbulkan masalah baru yang tidak terduga. Kenapa kita tidak mencoba mengubah penafsiran kita atas kesusahan yang menimpa kita, kenapa kita perlu bersabar??

Sabar, khususnya ketika mendapatkan kesulitan adalah menjaga hati dari menggerutu, menjaga lisan dari berkeluh kesah dan menjaga diri dari perbuatan yang terlarang. “Sabar yang sebenarnya ialah sabar pada saat bermula (pertama kali) tertimpa musibah”. (HR. Bukhari). Ketika mencoba sabar,saat itu kita telah memutuskan memberikan semangat untuk pantang menyerah,efeknya luar biasa kita bisa berpikir jernih atas masalah yang dihadapi dan menanamkan harapan untuk bangkit menuju keberhasilan. Dengan sabar kita akan dapat menangkap hikmah dari cobaan tersebut. Sabar menjadikan kita semakin tangguh dalam mengarungi hidup. Kita akan mengerti bahwa kesusahan adalah cara Allah agar kita tambah dewasa,tambah kuat,tambah menghargai hidup. Cobaan datang karena Allah sayang pada kita sebagai peringatan ketika kita khilaf. Segala yang mudah didapat akan mudah menghilang,segala yang susah didapat akan susah hilang,misalnya kita lihat buah durian yang sulit dibuka dan durinya menyeramkan ternyata isinya lezat

Hidup membawa kesempatan,dan dari kesempatan muncullah pertumbuhan, bagi beberapa orang,”kesempatan” dianggap sebagai masalah,bukan sebagai balok penyusun pertumbuhan, perubahan pun dapat disambut atau ditolak,pilihannya ada pada diri kita. Ketika kehidupan memunculkan tantangan dan rintangan,kita dapat memandang setiap kesempatan sebagai sebuah tantangan seraya menemukan kekayaan yang mungkin termuat didalamnya dapat meningkatkan kualitas kita. Dengan sabar kita merangkul rasa takut dan berhadapan dengan tantangan sambil mencari keuntungan dan kesempatan atas pertumbuhan yang ditawarkan. Lihatlah bagaimana bayi merasakan sakitnya awal pertumbuhan gigi,merasakan susahnya merangkak,sakitnya merupakan cara tubuh dan jiwa memunculkan potensi baru.

Sehingga sabar membuat kreatif ketika sampai saat kedatangan musibah atau penderitaan lalu kita bersyukur dengan harap cemas,”Alhamdulillah,Kemampuan baru apalagi yang akan diberikan Allah kepadaku?”

Kemampuan yang diberikan Allah kita gunakan untuk berusaha lebih baik, kemudian kita pasrahkan / tawakal pada Allah dengan sepenuh keyakinan karena “Siapakah Kita seHingga Harus Menyerah Pada Selain Allah???”. Dengan totalitas kepercayaan kepada Allah dan niat tulus ini maka kita menyimpulkan “JIKA SAYA BERPIKIR AKAN BISA ,MAKA SAYA PASTI BISA”

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al-Baqarah:155).

Posted by successwin

Senin, 18 Februari 2008

Seri Motifasi & Manajemen Diri Muslim, "Kekuatan Motivasi"

Senayan Publishing

Cerdas dan Berkualitas


Seri Motivasi & Manajemen Diri Muslim


Kekuatan Motivasi

Oleh: Okke Nurtama


“… Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka

bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang

yang bertawakal.” (Ali 'Imran [3]: 159)


Dalam suatu sesi pelatihan motivasi, seorang motivator selaku trainer

membawakan sebuah cerita. Memang terkesan seperti dongeng. Namun, pada

prinsipnya bahwa seluruh peserta diminta mengambil “poin terpenting” di akhir cerita

tersebut. Si trainer mulai menuturkan cerita tersebut.


“Suatu hari seorang pemburu bersama anjing terlatihnya masuk ke hutan untuk

berburu. Pemburu ini lebih senang berburu tanpa senjata seperti bedil ataupun panah

dan senjata tajam. Dia hanya mengandalkan keahlian anjingnya untuk menangkap

binatang buruan yang dia inginkan. Soal keahlian anjingnya tak perlu diragukan lagi.

Hampir seratus persen selalu berhasil mengejar dan menangkap mangsanya.

Setelah masuk agak ke dalam hutan terlihat seekor kijang betina di kejauhan.

Kijang itu sedang hamil rupanya. Walaupun ia sedang makan rerumputan namun

telinganya senantiasa waspada terhadap bahaya pemangsa. Kontan saja si pemburu

segera memberi perintah kepada anjing terlatihnya untuk menangkap kijang itu. Secepat

kilat terjadilah sebuah adegan pengejaran seru: anjing jenis herder pemburu mengejar

seekor kijang betina.

Sudah sepuluh menit berlalu, namun anjing itu belum berhasil menangkap

buruannya. Boro-boro menangkap, menyentuh buruannya saja belum berhasil. Semakin

gesit anjing itu mengejar, semakin cepat pula kijang itu berlari. Jalan berpohon-pohon,

berbatu-batu, mendaki, menurun, hingga jalan yang datar sekalipun tidak memberi satu

peluang pun bagi si anjing agar mudah menerkam mangsanya. Akhirnya setengah jam

telah berlalu. Si anjing pun kehabisan napas dan menghentikan pengejarannya. Melihat

si anjing kini berhenti, si kijang berdiri saja dan tersenyum dekat si anjing sambil

mengatur napas. Kemudian terjadilah dialog antara si anjing dengan si kijang.

Si anjing berkata, ‘Jang, Jang (Kijang)… kenapa sih kamu larinya kencang

betul? Aku nggak sanggup lagi mengejar kamu. Padahal aku ini anjing terlatih, lho.

Selain itu, kamu juga sedang hamil, kan?’

Apa jawaban si kijang? Kalau cerita ini menjadi ajang iklan mungkin dijawab,

‘Kijang memang tiada duanya’, tapi tidak demikian, si kijang menjawab dengan sejujur-

jujurnya, ‘Jing (Anjing), nggak ada yang istimewa dari cara aku berlari. Kalau kamu

berlari dengan tujuan hanya mengejar prestasi menyenangkan tuanmu, tapi kalau aku

berlari karena ingin menyelamatkan nyawaku dan nyawa calon anakku di kandunganku.

Inilah yang membedakan tujuan kita berlari, sehingga aku bisa berlari jauh lebih cepat

dan lebih kuat daripada kamu.’”

Setelah ditanyakan kepada peserta training motivasi itu tentang “poin

terpenting” dari cerita tersebut, ternyata tak satu pun yang tepat menjawab. “Poin

terpenting” yang dimaksud adalah “kekuatan motivasi”. Ya, motivasi dan sekaligus

dengan kekuatannya memang bukan benda berwujud fisik, namun mampu

menggerakkan seseorang—dalam hal ini “diperankan” oleh si kijang betina itu—dan

membuat proses kesuksesan berjalan menjadi jauh lebih baik.

“Keajaiban” Kekuatan Motivasi

Kekuatan motivasi memang identik dengan “keajaiban” pencapaian keberhasilan

setiap orang. Semakin baik seseorang mempunyai motivasi diri, semakin baik dia

memiliki persediaan kekuatan motivasi dirinya. Tentunya seorang muslim harus

memiliki motivasi yang sangat tinggi, yaitu motivasi dalam koridor keridhaan Allah

swt.—seperti telah dibahas dalam materi sebelumnya yang menyajikan bagaimana

seorang muslim membuat (mengatur) visi dan misi hidupnya. Setelah kekuatan motivasi

berubah menjadi ‘azam (tekad yang kuat), seorang muslim sudah seharusnya “berjalan”

dalam proses aktivitasnya menuju ketakwaaan dan senantiasa bersabar dan bertawakal

kepada Allah swt. dalam menempuh “perjalanannya” tersebut.

Kisah di atas tentang “si kijang dan si anjing pemburu” memberi ibrah

(pelajaran) penting bagi kita bahwa si kijang betina yang sedang hamil pun—tanpa kita

sangka sebelumnya—ternyata mampu memiliki kekuatan motivasi yang luar biasa, jauh

di atas kekuatan motivasi si anjing pemburu. Bukankah motivasi yang kuat untuk

menyelamatkan nyawa dan nyawa calon anaknya itu—sebagai salah satu karunia Allah

swt. yang amat berharga bagi makhluk-makhluk-Nya—lebih baik dan lebih mulia

daripada sekadar penghargaan prestasi di mata manusia? Walaupun si anjing pemburu

itu terlatih, walhasil tanpa kekuatan motivasi yang benar dan maksimal ternyata

pencapaian target keberhasilannya masih di bawah rencana.

Memanfaatkan Otak Kita

Motivasi memang merupakan gabungan dari berbagai faktor yang

menyebabkan, menyalurkan, dan mempertahankan tingkah laku. Karena itu, motivasi

dapat menjadi faktor pendorong untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat dan

meningkatkan kualitas hidup pribadi yang bersangkutan. Ia mampu mendorong

seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat sama sekali. Ia juga mampu membuat

manusia menjadi semangat atau tidak semangat melakukan sesuatu. Motivasi dapat

meningkat dan menurun sesuai perintah otak manusianya.

Inilah hubungan yang sangat erat—yang dapat kita simpulkan—bahwa otak kita

berperan penting dalam menghasilkan “keajaiban” kekuatan motivasi diri kita. Karena

motivasi muncul dari otak manusia dan motivasi juga merupakan salah satu kerja otak,

maka latihlah otak Anda yang telah Allah swt. ciptakan sangat canggih dengan latihan-

latihan yang bersifat memicu, menyadarkan, dan meningkatkan motivasi Anda. Tidak

mustahil, Anda akan memiliki kekuatan motivasi yang canggih karena berangkat dari

otak Anda yang canggih dengan dilatih oleh cara-cara meningkatkan motivasi yang

canggih pula. Insya Allah di kesempatan berikutnya kita akan membahas beberapa

langkah meningkatkan motivasi diri. Wallahu a’lam

Minggu, 17 Februari 2008

Menyoal Kembali Motivasi Berprestasi SDM Muslim

Oleh :

Muhammad Karebet Widjajakusuma Pembahasan motivasi dalam manajemen sumberdaya manusia kerap membawa nama Abraham Harold Maslow. Maslow – seorang humanis keturunan Yahudi Rusia penyandang gelar “Humanist of The Year” 1966 versi American Humanist Association – banyak dihubungkan dengan teori motivasi, khususnya dengan pendekatan content. Dalam bukunya, A Theory of Motivation (1943) sebagaimana yang dikutip oleh Mursi (1998), ia mencoba menjawab sejumlah pertanyaan seperti: kebutuhan-kebutuhan apa yang dicoba dipuaskan oleh orang-orang? Apa yang mendorong mereka untuk bertindak? Menurutnya, setiap individu mempunyai kebutuhan mendalam yang mendorong, menekan, atau memotivasikan mereka untuk menguranginya atau memenuhinya. Artinya, para individu akan bertindak atau berkelakuan dengan cara-cara yang akan membawa mereka kepada kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan mereka. Kebutuhan manusia diuraikan Maslow secara hirarkis sebagai berikut:(1) Kebutuhan fisiologis (physiological needs), yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas, dan seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling dasar.(2) Kebutuhan rasa aman (safety and security), yaitu kebutuhan akan perlindungan dari ancaman, bahaya, pertentangan, dan lingkungan hidup.(3) Kebutuhan untuk merasa memiliki (belongingness), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai.(4) Kebutuhan akan harga diri (esteem), yaitu kebutuhan untuk dihormati, dan dihargai oleh orang lain.(5) Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri (self-actualization), yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan, skill, dan potensi. Dengan hirarki seperti ini, seorang karyawan yang membutuhkan keberhasilan dapat dimotivasi untuk bekerja beberapa jam lebih banyak untuk menyelesaikan suatu tugas yang sulit tepat pada waktunya; seorang pegawai yang membutuhkan penghargaan diri akan dimotivasikan untuk bekerja dengan sangat hati-hati untuk menghasilkan suatu pekerjaan dengan kualitas yang tinggi. Selanjutnya, Maslow mengemukakan bahwa orang dewasa secara normal memuaskan kira-kira 85 persen kebutuhan fisiologisnya, 70 persen kebutuhan rasa aman, 50 persen kebutuhan untuk memiliki dan mencintai, 40 persen kebutuhan harga diri, dan hanya 10 persen dari kebutuhan aktualisasi diri. Setelah delapan belas tahun Maslow memunculkan teorinya, David C. McClelland (1961), psikolog Amerika dari Universitas Harvard merilis teori motivasi baru: motivasi berprestasi. Motivasi ini (achievement motive) diartikan sebagai " is impetus to do well relative to some standard of excellence" (Jhonson, 1984). Suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dengan sebaik-baiknya agar mencapai prestasi dengan predikat terpuji. Dalam teori ini, dikemukakan bahwa produktivitas seseorang sangat ditentukan oleh "virus mental" yang ada pada dirinya. Virus mental yang dimaksud adalah kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk mampu mencapai prestasinya secara maksimal. Virus itu terdiri dari 3 dorongan kebutuhan, yaitu: need of achievement, need of affiliation, dan need of power.McClelland memfokuskan perhatian pada pembinaan virus mental manajer. Caranya adalah melalui pengembangan potensi mereka dalam lingkungan kerja secara efektif. Dengan cara ini diharapkan produktivitas perusahaan yang berkualitas tinggi dapat terwujud hingga tujuan utama perusahaan dapat tercapai. Dari penelitiannya – juga Murray (1957) serta Miller dan Gordon (1970) - dapat disimpulkan terdapatnya hubungan yang positif antara motivasi berprestasi dengan pencapaian prestasi. Artinya, manajer yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi cenderung memiliki prestasi kerja tinggi, dan sebaliknya mereka yang prestasi kerjanya rendah dimungkinkan karena motivasi berprestasinya juga rendah. Dan ternyata, motivasi berprestasi seseorang sangat berhubungan dengan dua faktor, yaitu tingkat kecerdasan (IQ) dan kepribadian. IQ merupakan kemampuan potensi dan kepribadian merupakan kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan fungsi psiko-fisiknya yang sangat menentukan dirinya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Artinya, orang akan mempunyai motivasi berprestasi tinggi bila memiliki kecerdasan yang memadai dan kepribadian yang dewasa. Ia akan mampu mencapai prestasi maksimal.Meskipun teori-teori ini kelihatannya sangat sederhana, namun dalam prakteknya pengertian motivasi saat ini telah berkembang jauh lebih kompleks. Mursi (1998) melalui bukunya SDM yang Produktif: Pendekatan Al Qur’an dan Sains, bahkan menilainya telah usang. Alasannya:(1) Hirarki kebutuhan-kebutuhan itu berbeda-beda di antara para individu, dan ia juga berganti-ganti sepanjang waktu.(2) Cara-cara kebutuhan-kebutuhan tersebut diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan juga berbeda-beda di antara para individu.(3) Orang tidak selalu bertindak atas dasar kebutuhan mereka terus-menerus, dan kebutuhan-kebutuhan yang memotivasi mereka berbeda-beda dari waktu ke waktu.(4) Reaksi dari para individu untuk memenuhi kebutuhan atau untuk tidak memenuhinya akan berbeda-beda. Makin banyak kita mengenal orang-orang di sekitar kita, maka makin mampu kita untuk mengerti tentang kebutuhan-kebutuhannya dan tentang apa yang akan memotivasi mereka. Tetapi, perilaku manusia tergantung kepada demikian banyak kompleksitas dan alternatif-alternatif, sehingga kita pasti akan sering kali membuat kesalahan-kesalahan dalam membuat perkiraan-perkiraan. Koreksi Mursi setidaknya memberikan gugahan untuk menyoal kembali keberadaan motivasi dalam diri seorang muslim. Seberapa tepat pendapat duo Maslow dan McClelland akan kebutuhan manusia yang abai akan aspek ruhiyah? Selalukah aktivitas manusia didasari atas motivasi bendawi? Lalu, bagaimana halnya dengan motivasi SDM Muslim? Tidakkah motivasi berprestasi telah menjadi suatu potensi yang fitrah ada dalam setiap diri SDM Muslim? Ataukah memang motivasi berprestasi adalah sesuatu yang asing sehingga telah menjadi “kemakluman bersama” bila kebanyakan SDM Muslim diidentikkan pada prototip SDM yang minus motivasi berprestasi hingga emoh beretos kerja tinggi? Bagaimana sesungguhnya kaitan kebutuhan manusia sebagai potensi kehidupan dengan motivasi dalam pandangan syariah? Untuk menjawabnya, uraian berikut mencoba memaparkan hakikat motivasi ditinjau dari sudut pandang syariah. Pemahaman akan Potensi Kehidupan Sebagaimana telah diketahui, ketika menciptakan manusia, Allah SWT melengkapinya dengan potensi-potensi kehidupan (thaqatun hayawiyatun) yang secara fitri akan mendorongnya untuk beraktifitas mewujudkan misi penciptaannya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya. Potensi kehidupan yang dimaksud, menurut Syekh Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya Al Fikru Al Islamy, berupa hajatu al ‘udhawiyah (kebutuhan jasmani) dan gharizah (naluri). Hajatu al ‘udhawiyah dapat berupa rasa lapar, haus dan kebutuhan untuk buang hajat besar dan kecil, sementara gharizah berupa naluri beragama (gharizatu al-tadayun) yang perwujudannya berupa kecenderungan manusia untuk melakukan ibadah atau aktifitas mensucikan segala sesuatu yang dianggapnya besar; naluri melangsungkan keturunan (gharizatu al nau’) dimana perwujudannya diantaranya berupa ketertarikan manusia kepada lawan jenisnya; dan naluri untuk mempertahankan diri (gharizatu al baqa’), yang salah satu wujudnya adalah keinginan manusia untuk menjadi pemimpin. Kebutuhan jasmani dan naluri itu menghendaki pemenuhan. Persoalannya kemudian adalah bagaimana caranya manusia memuaskan semua kebutuhan jasmani dan naluri-naluri itu. Di sinilah, sesuai dengan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah Swt, upaya memenuhi dan menyalurkan segenap potensi kehidupan itu juga senantiasa harus berlandaskan pada aturan-aturan Allah. Maka, upaya memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan Allah berarti dengan sendirinya bertentangan dengan hakikat misi penciptaan manusia itu sendiri.

Motivasi Perbuatan Manusia Dalam Pandangan Syariah

Perbuatan yang dilakukan manusia (termasuk motivasi bekerja, tentu saja) tidak akan pernah keluar dari kedudukannya sebagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri sebagai potensi kehidupan yang dianugerahkan Allah Swt kepada manusia. Kuat lemahnya dorongan manusia untuk melakukan suatu perbuatan, selain ditentukan oleh motivasi (al-quwwah), sesungguhnya juga sangat bergantung pada maksud perbuatan dan tujuan (al qimah) yang menjadi dasar manusia dalam melakukan perbuatan. Oleh karena itu, mengetahui dan membina motivasi serta tujuan yang sahih dan kuat dengan mafhum (pemahaman) kehidupannya yang benar, agar setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dapat terlaksana dengan baik dan sempurna adalah suatu kemestian bagi setiap orang, tidak terkecuali para SDM Muslim.Syekh Muhammad Muhammad Ismail dalam buku yang sama, selanjutnya menguraikan motivasi yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan, yakni:(1) Motivasi fisik - material (al quwwah al madiyah). Motivasi ini meliputi tubuh manusia dan alat yang diperlukan untuk memenuhi keperluan jasmaninya. Bersifat lemah dan mudah hilang. Contohnya, orang yang lapar biasanya didorong oleh kebutuhan jasmaninya untuk makan. Namun kadang dorongan tersebut dapat ditahan – misalnya karena puasa - sehingga dorongan untuk makan tidak dipenuhi. Materi adakalanya juga tidak mampu membangkitkan seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu. Uang melimpah, pangkat terhormat dan rumah mewah sekalipun tidak akan mampu memaksa seorang muslim untuk bersumpah palsu di pengadilan, jika ia takut untuk berdusta dan berdosa.(2) Motivasi emosional (al quwwah al ma’nawiyah). Motivasi yang berupa kondisi kejiwaan yang senantiasa dicari dan ingin dimiliki seseorang ini sekalipun tidak permanen, namun lebih kuat bila dibandingkan dengan motivasi pertama. Contohnya, perlawanan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang telah merusak nama baiknya, adalah perbuatan yang didorong oleh kondisi kejiwaan seseorang. (3) Motivasi spiritual (al quwwah ar-ruhiyah). Kedua motivasi sebelumnya sulit untuk dapat dijadikan dorongan dasar bagi manusia untuk melakukan tindak perbuatan. Penyebabnya terletak pada sifatnya yang cenderung temporal, mudah hilang dan bendawi semata. Hal ini berbeda dengan motivasi spiritual yang berupa kesadaran seseorang bahwa ia memiliki hubungan dengan Allah Swt. Dzat yang akan meminta pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya di dunia. Motivasi inilah yang mampu mendorong manusia untuk melakukan perbuatan apa saja, asalkan sesuai dengan syariat yang diberikan-Nya. Dengan demikian, motivasi yang sahih dan kuat untuk mendorong manusia dalam mewujudkan aktivitas kehidupannya adalah Motivasi Spiritual (Ruhiyah). Dengan motivasi ini, seseorang akan terpacu untuk berikhtiar terus-menerus disertai dengan tawakal dan pantang berputus harapan hingga akhirnya meraih keberhasilan dengan izin Allah Yang Maha Pemurah lagi Penyayang. Inilah motivasi berprestasi yang sesungguhnya. Tujuan Perbuatan Manusia Hafiz Abdurrahman (1998) dalam bukunya Islam: Politik dan Spiritual, menandaskan bahwa tujuan perbuatan juga mutlak harus difahami oleh setiap manusia. Sebab dengan begitu, nilai (tujuan/al qimah) yang ingin diwujudkan dalam setiap perbuatan yang dilakukan manusia dapat terwujud dengan baik dan sempurna. Tanpa adanya pemahaman tentang tujuan perbuatan itu, seseorang tidak akan dapat menentukan apakah ia berhasil ataukah tidak.Berdasarkan hukum-hukum syara’ yang memerintahkan kita untuk melakukan perbuatan tertentu, didapati adanya nilai-nilai tertentu yang diperintahkan agar dicapai ketika perbuatan tersebut dikerjakan. Nilai-nilai itu adalah: (1) Nilai Materi (al qimah al madiyah). Allah SWT memerintahkan bekerja (QS. Al Mulk: 15) dan jual beli (QS. Al Baqarah: 275) adalah untuk mendapatkan nilai materi. Dimana nilai tersebut berupa benda yang dapat diindera dan diraba, seperti uang, harta atau makanan.(2) Nilai Kemanusiaan (al qimah al insaniyah). Nilai ini berupa layanan manusia kepada sesama manusia. Misalnya, membantu orang-orang yang kesulitan materi, menyelamatkan orang yang tenggelam, dan sebagainya. Semua ini dilakukan semata karena unsur kemanusiaan saja. Nilai ini diperintahkan Islam bukan untuk mendapatkan keuntungan materi, namun karena motivasi spiritual yang diperintahkan oleh Allah SWT.(3) Nilai Akhlaq (al qimah al khuluqiyah). Nilai akhlaq akan dicapai oleh setiap muslim manakala dalam setiap perbuatannya dihiasi dengan sifat-sifat (akhlaq) yang diperintahkan Allah SWT. Sifat-sifat ini nampak pada diri seorang muslim jika ia melakukan ibadah, muamalah, uqubat, makan dan minum sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.(4) Nilai Spiritual (al qimah ar-ruhiyah). Nilai spiritual dicapai dengan tujuan agar (kesadaran) hubungan seseorang dengan Tuhannya dapat meningkat, apabila ia mengerjakan perbuatan tertentu. Nilai ini bersifat pribadi, sebab hanya dia yang dapat merasakannya, orang lain tidak. Dari keempat nilai di atas, mana yang lebih utama? Yang menentukan bahwa nilai yang satu lebih utama atau sama dibandingkan yang lain adalah hukum syara’, bukan manusia. Karena itu memahami hukum syara’ akan suatu perbuatan sudah menjadi kemestian bagi seorang muslim. Hal ini sebagaimana kaidah ushul yang menyatakan “al aslu fil af’al attaqoyyadu bil hukmisy syar’i”, yakni hukum asal suatu perbuatan adalah terikat pada hukum syara yang lima, yakni wajib, sunah, mubah, makruh atau haram. Perbuatan Seorang Muslim Adalah Perbuatan Prestatif Dalam melakukan setiap perbuatan, setiap muslim pastilah melewati tahapan berikut, yaitu (1) berawal dari naluri atau kebutuhan jasmani, (2), mengindera dorongan yang muncul, apakah dari naluri atau kebutuhan jasmani, (3) menetapkan motivasi perbuatan, (4) berfikir tentang cara memenuhi dorongan dengan benar, baik dan sempurna sesuai dengan koridor syariah, (5) usaha untuk memenuhi naluri dan/atau kebutuhan jasmani, (6) berupaya mendapatkan nilai yang ingin dicapai.Singkat kata, disamping dalam setiap beramal seorang muslim harus berusaha meraih al qimah yang dituju, upaya yang dilakukan itu haruslah sesuai dengan aturan Islam dan dilakukan dengan menyatukan antara materi (perbuatan) dengan ruh (motivasi ar-ruhiyah). Atau dengan kata lain, ketika melakukan sesuatu harus disertai dengan kesadaran hubungannya dengan Allah. Inilah yang dimaksud dengan bahwa setiap perbuatan muslim adalah ibadah.Kesimpulannya, setiap perbuatan seorang muslim telah dituntun sedemikian rupa sehingga motivasi seorang muslim sesungguhnya adalah motivasi berprestasi. Muslim yang selalu membina diri dengan pemahaman kehidupan yang benar, konsisten dengan amal kehidupan yang didorong motivasi yang shahih berlandaskan pada ketaatannya kepada Allah, Dzat Yang Serba Maha, maka ia akan mewujud pada prototip SDM yang didambakan Islam. SDM Muslim yang memiliki kematangan kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah), melalui pola fikir dan pola sikap (perilaku) yang Islami serta profesional, yakni kafa’ah (berkeahlian); himmatul ammah (beretos kerja tinggi); dan amanah (terpercaya).Bila demikian adanya, kiranya tidaklah berlebihan bila dinyatakan bahwa mestinya SDM muslim adalah SDM yang berprestasi. Wallahu a’lam bishshawab.
Penulis adalah konsultan manajemen syariah serta trainer manajemen dan motivasi. Sehari-hari Manajer Divisi Pelatihan dan Konsultasi Shariah Economic and Management (SEM) Institute Jakarta. juga menulis buku-buku manajemen berbasis perspektif syariah, seperti Pengantar Manajemen Syariah (Khairul Bayan, 2002), Menggagas Bisnis Islami (GIP, cetakan kedua, 2002), Manajemen Strategis Perspektif Syariah (Khairul Bayan, 2003).
Ma'had Darul Ihya : http://www.darul-ihya.com
Versi Online : http://www.darul-ihya.com/?pilih=lihat&id=43